GANGGUAN PSIKOLOGI PADA MENSTRUASI SERTA CARA MENGATASINYA
MENSTRUASI
Salah satu periode rentang kehidupan individu adalah masa remaja. Dimana pada saat itu akan terjadi peristiwa pubertas yang merupakan suatu proses menuju kedewasaan. Pertumbuhan dan perkembangan jasmani pada masa pubertas ini tidak menunjukkan keselarasan dan tidak beraturan. (B. Simandjuntak, 1980: 88). Peristiwa yang paling penting pada masa pubertas anak gadis ialah menstruasi atau haid yang menjadi pertanda biologis dari kematangan seksual. Menstruasi biasanya dimulai pada usia 11- 14 tahun. Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan pendarahan dan terjadi setiap bulannya. (Herawati Mansur, 2009:116). Jadi dapat dikatakan bahwa menstruasi merupakan pendarahan dari uterus yang terjadi secara siklik sebagai tanda bahwa alat kandungan menunaikan faalnya. (Sulaiman Sastrawinata, 1983:73)
Seorang wanita memiliki dua ovarium yang masing-masing menyimpan 200.000-400.000 sel telur yang belum matang (folikel). Normalnya hanya satu atau beberapa sel telur saja yang tumbuh setiap periode menstruasi, ketika sel telur tersebut telah matang maka sel telur tersebut akan dilepaskan dari ovarium dan kemudian berjalan menuju tuba fallopi untuk kemudian dibuahi. Apabila sel telur ini tidak dibuahi, maka lapisan dinding bagian dalam rahim yang disiapkan untuk penempelan hasil pembuahan akan terkelupas dan terjadilah pendarahan/menstruasi. Kebanyakan orang sering menganggap bahwa menstruasi adalah pertanda mulainya pubertas. Kenyataannya, menstruasi paling terakhir terjadi. Menstruasi tidak akan dim mulai sekurangnya satu tahun setelah pertumbuhan pesat, yaitu setelah payudara mulai berkembang serta tumbuhnya rambut di ketiak dan pubis. Satu atau dua tahun sebelum menstruasi, vagina mulai menghasilkan cairan bening yang tak berbau. Bila sebelumnya tidak mengetahui masalah ini, mungkin cemas. Keadaan ini normal dan tidak perlu dicemaskan. (Herawati Mansur, 2009:116).
Pada masa menstruasi ini, akan timbul bermacam –macam peristiwa, yaitu: reaksi hormonal, reaksi biologis, reaksi psikhis, berlangsunya secara siklik proses-proses somatis dan pengulangan secara periodik proses menstruasi. Semua ini berlangsung dalam suasana hati yang normal pada anak gadis,tapi kadang kala juga bisa menimbulkan bermacam-macam masalah psikosomatis. (Kartini Kartono, 1981:117). Menstruasi biasanya datang sebulan sekali dengan siklus yang bervariasi dari 28-35 hari. Secara normal menstruasi terjadi pada wanita secara rutin setiap bulannya selama masa suburnya kecuali apabila terjadi kehamilan. (www.masasubur.co.id/index.html).
Walaupun menstruasi biasanya dimulai pada usia antara 11dan 14 tahun, kadang-kadang ada juga yang lambat datangnya. Cepat atau lambatnya kematangan seksual (kematangan fisik) ini, bisa dipengaruhi oleh faktor ras/suku bangsa, keturunan, faktor iklim, serta cara hidup yang melingkungi sianak. Contohnya; badan yang lemah atau penyakit yang mendera seorang anak, bisa memperlambat tibanya menstruasi. Selanjuunya rangsangan-rangsangan yang kuat dari luar, berupa film-film seks, buku-buku bacaan dan majalah forno, godaan dan rangsangan dari kaum pria, pengamatan secara langsung trehadap perbuatan seksual (coitus), semua itu tidak hanya mengakibatkan memuncaknya reaksi-reaksi seksual saja, akan tetapi juga mengakibatkan kematangan seksual yang lebih cepat pada diri sianak. Jadi pengaruh kultur dan peradaban itu tampaknya ambivalen sifatnya. (Kartini Kartono, 1981:118).
2.2 MENSTRUASI SEBAGAI PENGALAMAN PSIKHIS
Peristiwa menstruasi pada seorang gadis menyatakan bahwa anak gadis itu secara biologis telah siap untuk melakukan fungsi kewanitaannya. Pada saat itu, anak gadis yang normal akan mengetahui semua rahasia dan kerepotan yang menyelubungi pribadi seorang ibu dalam menghadapi peristiwa menstruasi, kehamilan, dan kelahiran bayi. Oleh karena itu, bila menstruasi datangnya pada usia masih sangat muda, anak gadis belum siap menerima peristiwa itu, dan peristiwa itu terasa menekan jiwanya.
Yang penting bagi psikologi dalam membahas masalah menstruasi ini ialah menstruasi sebagai satu pengalaman psikhis. Sebab jauh sebelum menstruasi itu mulai, setiap anak gadis sudah mempunyai antisipasi dengan perasaan yang berbeda-beda. Periode antisipasi yang disebut juga dengan periode penantian itu segera diakhiri oleh masa kematangan, dengan tibanya haid atau menstruasi. Fase tibanya haid ini merupakan suatu periode dimana sigadis benar-benar telah siap secara biologis menjalani fungsi kewanitaannya. Maka pada saat adolesensi tadi, peristiwa haid itu menduduki suatu eksistensi psikologi yang unik, yang bisa mempengaruhi sekali terhadap cara bereaksinya anak gadis terhadap realitas hidup, baik pada saat adolesensi maupun setelah dia menjadi dewasa. Semua rahasia yang menyelubungi ibunya dan bersangkutan dengan masalah haid dimasa-masa yang lalu, kini benar-benar menjadi suatu realitas bagi dirinya sendiri. Maka semakin muda usia sigadis dan semakin belum siap anak gadis tadi menerima peristiwa haid, akan semakin terasa kejam-mengancam pengalaman menstruasi tersebut, terasa pahit atau terasa sebagai gangguan dalam anggapan dan fantasi sianak. (Kartini Kartono, 1981:118-119).
Pada masa menstruasi banyak sekali terdapat gangguan-gangguan baik dari segi fisik maupun dasi segi psikologis. Gangguan-gangguan menstruasi ini dapat menyebabkan tergangguanya aktivitas-aktivitasdari wanita yang mengalami gangguan menstruasi tersebut. Pengamatan secara psikoanalitis menunjukkan, bahwa ada reaksi-reaksi psikhis tertentu pada saat haid pertama tersebut. Reaksi-reaksi psikis yang menyertai kedatangan menstruasi untuk yang pertama kalinya ini disebut oleh dr. Helena Deutsch sebagai kompleks kastrasi atau trauma genitalia.
Pada beberapa peristiwa kompleks kastrasi atau trauma genitalia itu muncul bermacam-macam gambaran fantasi yang aneh-aneh, yang dibarengi oleh kecemasan dan ketakutan-ketakutan yang tidak riil dan disertai pula dengan perasaan-perasaan bersalah atau berdosa, yang semuanya dikaitkan dengan masalah pendarahan pada organ kelamin dan proses haidnya. (Kartini Kartono,1981:119).
Selain itu, pada proses yang disebut dengan kompleks kastrasi ini, akan muncul rasa iri hati terhadap anak laki-laki. Dalam kondisi demikian, timbullah berbagai perasaan seperti rasa iri, cemburu, kecemasan dan berbagai reaksi lainnya sebagai akibat dari keinginan untuk menolak proses fisiologis tersebut. Terkadang mereka beranggapan bahwa peristiwa menstruasi merupakan bencana atau sebagai proses penembusan dosa.Maka pada banyak peristiwa, menstruasi pertama itu dihayati sianak sebagai satu pengalaman yang traumatis .
Namun demikian, pengertian dan pemahaman tentang haid pertama itu sangat bergantung pada beberapa faktor, antara lain: usia anak gadis, tingkat perkembangan psikhenya, lingkungan dan pendidikannya. (Kartini Kartono, 1981:120). Bila anak gadis menganggap bahwa menstruasi merupakan sebuah peristiwa yang menjijikan, karena keluarnya darah dari alat kelamin, maka si gadis akan menyendiri dan mempunyai kecenderungan untuk menghindari kontak dengan orang lain. Hal itu akan menyebabkan timbulnya perasaan sangat lemah dan sakit, sehingga ia tidak berani keluar rumah. Sebagai konsekuensinya ia dikasihani banyak orang. Semua permainan pendahuluan yang disertai dengan fantasi keberdosaan dirinya itu, di kemudian hari akan menjadi mekanisme pembelaan diri, artinya menstruasi selalu dipakai sebagai alasan agar dirinya dibebaskan dari tugas atau kewajiban tertentu.
Pada sebagian anak, Terkadang timbul anggapan keliru mengenai menstruasi. Hal tersebut sesuai teori cloaca (roil, saluran buang, kanal atau membuang kotoran, ujung dari liang usus tempat bermuaranya saluran kencing dan poros usus) yang mengatakan segala sesuatu yang keluar dari rongga tubuh itu adalah kotor, najis, dan menjijikkan, sehingga akan timbul rasa malu, kotor, tidak suci, dan ternoda. Terkadang juga mereka beranggapan akan mati karena darah banyak keluar dari vagina.
2.3 GEJALA PATHOLOGIS YANG MEMBARENGI MENSTRUASI
Menstruasi merupakan gejala biologis yang alami, progresif dan positif sebagai tanda dari kematangan seksual. Dengan demikian, seharusnya peristiwa diterima dengan sikap wajar. Namun bila peristiwa menstruasi menimbulkan keterkejutan (syok) yang sangat hebat disertai dengan iritasi (rangsangan yang mengganggu), biasanya anak gadis merasa sakit, disertai dengan mual-mual, cepat lelah dan berbagai emosi depresif. Demikian pula bila menstruasi pertama terjadi penolakan yang defensif, bisa mengakibatkan pengereman fungsional. Artinya ada beberapa fungsi psikis dan fisik yang mengalami hambatan atau pengereman yang
menyebabkan retensi menstruasi (berhentinya menstruasi), yang disebabkan oleh
reaksi kejutan pada menstruasi pertama. Pada usia yang lebih tua, penolakan akan
menimbulkan penyakit yang sulit disembuhkan jika ditangani secara fisis-organis,
seperti psychogene amenorhoe. Namun jika dilakukan dengan terapi psikis, penyembuhan akan terjadi lebih cepat. (Herawati Mansur, 2009:117-118)
Telah kami kemukakan di bagian depan, reaksi anak-anak gadis pada saat menstruasi pertama itu sangat berbeda-beda atau bervariasi. Pada anak-anak gadis yang mempunyai kecenderungan neurotis dalam usia pra-pubertas dan banyak mengalami konflik-konflik batin, menstruasi pertama itu mengakibatkan munculnya secara laten neurosanya, atau memunculkan beberapa tingkah laku yang pathologis. Pada umumnya mereka itu diliputi oleh kecemasan-kecemasan berupa fobia, atau berupa minat yang sangat berlebih-lebihan terhadap badan sendiri berupa hypochondria. Bisa juga berwujud rasa-rasa bersalah atau berdosa yang sangat ekstrim yang kemudian menjelma jadi reaksi-reaksi yang paranoid. (Kartini Kartono, 1981:122-124)
FOBIA
Fobia adalah ketakutan atau kecemasan yang abnormal, tidak rasional, dan tidak bisa dikontrol terhadap suatu situasi atau objek tertentu.(Kartino Kartono, 1985:112). Fobia adalah satu bentuk gangguan jiwa ringan yang membuat penderitanya selalu ketakutan ketika berhadapan dengan sesuatu yang sebenarnya bukanlah ancaman. Jika tidak ditangani dengan benar, fobia bisa mengganggu kehidupan.
Penyebab fobia belum diketahui dengan pasti.
Adapun jenis-jenis fobia adalah sebagai berikut:
· Fobia spesifik
Fobia spesifik adalah penyakit kecemasan yang paling sering terjadi. Beberapa fobia spesifik antara lain seperti takut binatang, kegelapan, orang asing, ketinggian dan lain-lain.
· Fobia sosial
Kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan yang serasi dengan yang lainnya melibatkan berbagai aspek kehidupan. Kecemasan tertentu dalam situasi sosial adalah normal, tetapi penderita fobia sosial merasakan kecemasan yang berlebihan, sehingga mereka menghindari situasi sosial atau menghadapinya dengan penuh tekanan.
HYPOCHONDRIA
Hipokondria adalah gangguan kecemasan atau rasa takut pada individu yang berlangsung berulang-ulang. Hipokondria ialah kondisi kecemasan yang kronis dan berlebih-lebihan, dimana pasien selalu merasakan ketakutan yang menjurus pada patologis terhadap kesehatan badannya. Penderita merasa benar-benar yakin bahwa dirinya mengidap penyakit yang serius. (Kartino Kartono, 1985:126).
Gangguan ini biasanya dimulai pada awal masa remaja dan cenderung terus berlanjut. Beberapa orang dengan hipokondria juga mengalami depresi atau kegelisahan.(Herawati Mansur, 2009:119)
PARANOID
Paranoid adalah bentuk gejala delusi dimana seseorang memiliki keyakinan palsu yang berproses menjadi rasa curiga berlanjut dan tidak terkendali, dimana hal tersebut hanya dilandasi alur logika yang absurd serta berlawanan dengan kondisi nyata.
Gangguan paranoid dapat ditimbulkan oleh lingkungan yang mencekam dan mengharuskan pribadi itu hidup dalam ketakutan yang berkepanjangan. Gangguan kepribadian paranoid juga dapat disebabkan oleh pengalaman masa kecil yang buruk ditambah dengan keadaan lingkungan yang dirasa mengancam. Pola asuh dari orang tua yang cenderung tidak menumbuhkan rasa percaya antara anak dengan orang lain juga dapat menjadi penyebab dari berkembangnya gangguan ini. Pada akhirnya benaknya penuh ketakutan dan untuk melindungi diri dari kemungkinan datangnya bahaya, maka ia harus senantiasa berjaga-jaga mencurigai orang lain.
Beberapa gejala yang ditunjukan dalam gangguan kepribadian paranoid antara lain adalah:
1. Kecurigaan yang sangat berlebihan.
2. Meyakini akan adanya motif-motif tersembunyi dari orang lain.
3. Merasa akan dimanfaatkan atau dikhianati oleh orang lain.
4. Ketidakmampuan dalam melakukan kerjasama dengan orang lain.
5. Isolasi sosial.
6. Gambaran yang buruk mengenai diri sendiri.
7. Sikap tidak terpengaruh.
8. Rasa permusuhan.
9. Secara terus menerus menanggung dendam yaitu dengan tidak memaafkan kerugian, cedera atau kelalaian.
10. Merasakan serangan terhadap karakter atau reputasinya yang tidak tampak bagi orang lain dan dengan cepat bereaksi secara marah dan balas menyerang.
11. Enggan untuk menceritakan rahasia orang lain karena rasa takut yang tidak perlu bahwa informasi akan digunakan secara jahat untuk melawan dirinya.
12. Kurang memiliki rasa humor.
http://www.psychologytoday.com/conditions/paranoid-personality-disorder
2.4 CARA MENGATASI GANGGUAN PSIKOLOGI PADA MASA MENSTRUASI
Untuk mengatasi gangguan psikologi pada masa menstruasi dapat dilakukan dengan memberikan terapi psikhis. Adapun Cara mengatasi gangguan-gangguan psikologi pada masa menstruasi ini adalah dengan melakukan konsultasi atau konseling pada tenaga kesehatan seperti bidan, dokter dan sebagainya dan menjadikan tenaga kesehatan tersebut sebagai konselor. Peran atau tugas sebagai konselor ini yaitu sebagai berikut:
1. Memberi penjelasan dan informasi yang benar mengenai menstruasi kepada klien, bahwa proses menstruasi merupakan suatu proses fisiologi atau normal yang pasti akan terjadi dan akan dialami oleh setiap wanita yang subur. Dengan adanya informasi yang benar ini, akan menimbulkan suatu reaksi fantasi yang riil.
2. Memberi informasi-informasi positif yang berguna mengenai menstruasi agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap proses menstruasi tersebut.
3. Memberikan saran untuk mengurangi ketegangan dan rasa nyeri proses menstruasi berlangsung, seperti istirahat yang cukup, perbanyak minum air putih dan melakukan kompres air hangat pada bagian perut.
4. Memberikan support mental atau dukungan pada klien, agar lebih percaya diri dan tidak merasa takut dalam menghadapi masa menstruasi. (http://kafemuslimah.com)
DAFTAR PUSTAKA
Kartono, kartini. 1985. Psikologi Abnormal & Abnormalitas seksual.
Kartono, kartini. 1981. Psychologi Wanita, Gadis Remaja & Wanita Dewasa.
Mansur, herawati. 2009. Psikologi Ibu dan Anak untuk Kebidanan.
Simandjuntak. 1980. Psikologi Perkembangan.
Universitas Padjadjaran. 1983. Obstetri dan Fisiologi.
http://www.psychologytoday.com/conditions/paranoid-personality-disorder
http://www.wordinfo.info/words/images/crowd-phobia-smaller.gif
www.masasubur.co.id/index.html